Rabu, 08 Juni 2011

Perempuan, Black Strap Wedges dan Secangkir Teh Poci Panas


I still have my feet on the ground, I just wear better shoes.  -Oprah Winfrey-

Saya pernah ada pada posisi terheran-heran kenapa perempuan dan sepatu memiliki relasi kebatinan begitu kuat. ‘Hanya’ sepatu,padahal,  bukan sesuatu yang signifikan untuk diamati secara seksama pada garis horizon mata, ataupun dalam sumbu sosiopetal  dan sosiofugal manusia dalam kajian proxemic antropolog E.T Hall . Hanya sepatu, yang diinjak bahkan  dilempar kalau ada gangguan yang begitu mengesalkan. :D. Tapi, mungkin itu ajaibnya sepatu, sampai Imelda Marcos pun punya museum khusus di Mirikina untuk mendisplay ribuan sepatu koleksinya. Superb! (geleng-geleng untuk selanjutnya meniup niup permukaan secangkir teh poci,,jangan sebut  merek, karena ini benar-benar teh dalam poci.:P)

Dan see,,saat ini saya yang mungkin hampir ada di posisi itu, membangun ikatan imajiner begitu dalam dengan setiap pasang sepatu yang saya pakai. Seringkali sepatu lebih dulu menjelaskan siapa saya, yang kadang berteriak, diam malu-malu, santai, atau bergejolak. Bahkan terkadang, diwaktu lain sepatu juga yang kadangkala menutupi sedikit retak dari my never perfect outfit. Mengutip sedikit saja part percakapan di SATC, “I will never be the woman with the perfect hair (veil, in my case..:D), who can wear white and not spill on it”,, but Thank God, sometimes perfect shoes nailed it. :D!

Sedikit tarik mundur pada postingan blog saya sebelumnya tentang sepasang black ankle boots kesayangan, saya cinta boots ini sebesar rasa cinta pada black strap  wedges 9cm yang saat ini bertengger manis tak jauh dari ujung kelingking kaki saya. Entah ada mantra apa pada sepasang boots itu, tapi mereka seringkali membantu saya untuk berjalan dengan pasti, lari ketika ingin berhenti, yakin disaat ragu, dan  maju ketika tergoda untuk mundur. Mungkin mirip rasanya ketika saya, out of the blue, memutuskan mengenakan merah di suatu pagi, yang ternyata Bill Blass pun sepakat untuk melontarkan sebuah pernyataan yang sangat personal “when in doubt, wear red” :P! Pada intinya, sepasang boots ajaib itu mengintimidasi saya untuk tidak ragu, bahkan ketika itu harus saya bayar dengan pandangan ganjil sekian pasang mata saat dengan akal sehat dan pikiran sadar saya ditemani mereka untuk  asistensi di kampus. Kampus yang dengan common sense nya menciptakan homogenitas sneakers dan flat shoes terkecuali masa-masa sidang akhir atau karnaval toga. And I’ve been there of course…=P! Everyone grows up,,and everything’s changed,right?nothing last forever…diamond included. J….(Teh Poci, anda meluluhlantakkan saya detik ini….)

Menurut saya, black ankle boots dan strap wedges ini berdiri di ranah yang berbeda, tapi berteriak pada gelombang frekuensi yang sama. Sama-sama tegas, dominan, keras kepala, kuat, dan quite intimidating….:). Apa begitukah mereka mendeskripsikan karakter saya saat ini? Well, entahlah, untuk hal ini saya tidak begitu yakin…walau mungkin sudah ada penelitian yang mengait-ngaitkan karakter wanita dengan jenis sepatu yang mereka pilih. Sedikit intermezzo, konon katanya:

  • ·         Perempuan yang memilih sepatu model stiletto ( I know You Know What,but  if you’re a man, under 17, or thinking that fashion’s suck or literally having no idea, please google.:P), cenderung ingin menonjol untuk menutupi rasa ketidakpercayaan dirinya. (see, sometime ‘perfect shoes’ nailed it!). Stilettoers juga ‘katanya’ mencintai tantangan, berani, dan memiliki daya tarik seksual. à Unfortunately saya bukan pengagum sepatu jenis ini, sudah pernah mencoba tapi tersiksa karena koridor berlantai homogenius tile mulus mendadak jadi wahana berbatu di mata kaki saya. :D.
  • ·         Penyuka kitten heel shoes atau sepatu tumit kucing (istilah ini membuat saya beberapa kali memata-matai kucing bunting di halaman rumah, khusus untuk menyelidiki wujud tumitnya, :P), diduga memiliki kepercayaan diri tinggi, aktif, sangat menarik, dan memiliki sifat feminim alami (catat:feminim memang bisa dibuat-buat, bukan?)à Jujur, saya juga bukan pengagum jenis alas kaki ini, pendapat subjektif : tanggung.titik. Tapi tolong jangan karena ini anda menebak saya tidak menarik. :P
  • ·          Perempuan pengagum heel wedges (boys, ini bukan kulit kentang, plis.) adalah perempuan yang kuat dalam mempertahankan pandangan dan percaya diri menatap hidup, sedangkan  mereka yang memilih wedges bertumit rendah biasanya berkepribadian lembut, fleksibel, santai, dan menyenangkan. à Saya suka keduanya karena pada dasarnya saya memang suka wedges, baik 3,5,7,atau bahkan 9cm…,dengan catatan, untuk wedges lebih dari 7 cm, beri saya platform sekurang-kurangnya 1,5 cm. J. (Eh hey, ternyata di kategori yang lain, sepatu hak tinggi dengan platform menandakan pemakainya itu romantis lhooo….cocok kalo gitu!^^)
  • ·         Sementara di sisi lain, wanita yang memilih sepatu olahraga umumnya memiliki hati yang sangat terbuka namun konservatif dan sulit menerima perubahan. à been there, walau sudah lebih dari 2 tahun pensiun, kecuali ketika jogging. :P)
  • ·         Lain lagi dengan perempuan yang setia dengan sepatu bertumit sangat rendah (bayangkan sol sepatu pria umumnya) overall sangat tau apa yang dia inginkan dalam hidup, tapi mudah lelah dan cepat depresi) à Saya yakin sepatu ini sangat nyaman, tapi entah kenapa tak pernah tergoda untuk mencoba alih-alih membeli…J.
  • ·         Terakhir, pecinta sepatu bertumit datar adalah perempuan yang percaya diri, energik, ramah, feminism, dan cukup puas dengan daya tariknya. à Saya pernah dan masih cinta sepatu ini, walau belakangan frekuensi flat shoes di kaki saya kalah jauh dengan heel wedges. :)
Terlepas dari segala praduga, pendapat, deskripsi, analisis, atau apapun menyangkut korelasi antara karakter perempuan dan sepatu favoritnya, pendapat saya pribadi, evolusi perempuan mungkin sedikit banyak bisa diintip dari perjalanan mereka mencari sepatu yang pas dari hari ke hari dan tahun ke tahun. Dari pasrah dipilihkan sepatu berpita ketika masih bayi, terjebak nyaman dengan sneakers karena sekolah pernah mewajibkan itu, mulai berani memilih sendiri flatshoes saat remaja, yakin dengan pilihan strap wedges hitam saat transisi menuju dewasa, hingga mungkin akhirnya kembali memutuskan mendaratkan kaki diujung senja pada sandal kulit bersahaja dengan hak rendah.  Mungkin sedikit banyak pencarian sepatu yang ‘pas’ menjadi bagian dari pencarian jati diri, karena menurut saya, sepatu adalah benda yang sangat personal. “You cannot put the same shoe on every foot.” - Publilius Syrus - . 

Sama halnya dengan saya, kalau saat ini saya tergoda untuk berlabuh pada boots atau wedges ber-hak 5-9cm saat sebelumnya sudah cukup puas dengan sneakers atau flat shoes, anggap saja itu evolusi dalam komplikasinya pembangunan karakter. Saya tetap saya, dengan atau tanpa alas kaki. Alas kaki hanya membantu saya menapaki hari, menjejaki tempat-tempat yang membuat saya merasa hidup, walau tentu seringkali juga, berlari-lari telanjang kaki bersama ilalang atau hujan yang menetes di bumi adalah hidup itu sendiri. :)

Dan kini, tanpa alas kaki, saya menyudahi tegukan terakhir teh poci yang belum sempat dingin ini, menyelami aromanya, dan terakhir meresapi sisa manis gula batu yang masih betah melekat pada pori perasa lidah ini. Ritual ini selalu berhasil membuat saya menyapa pagi dengan senyum. Senyum yang semoga akan saya tularkan pada bumi hari ini. Karena  “of all the things you wear, your expression is the most important.”  ~Janet Lane. Ritual ini juga selalu sukses mensugesti saya untuk tidak  terburu-buru. Mungkin hidup memang kompetisi, tapi untuk saya hidup bukan balapan, karena dunia terlalu luar biasa untuk dilalui dengan tergesa-gesa. Untuk alasan itu pula detik-detik mendaratkan kaki pada black strap wedges ini adalah jeda waktu penting buat saya, karena ketika kedua kaki saya duduk dengan kokoh disini, saat itu juga saya siap melangkah. Pasti. 

Give a girl the correct footwear and she can conquer the world”  -Bette Midler-





1 komentar:

  1. jd penasaran pgn liat...mu di compare sm 8 taun yg lalu..

    BalasHapus