Kamis, 16 Juni 2011

Dua Bintang, Dua Cangkir, dan Satu Pertemuan.

Betapa rumitnya Tuhan mengatur segala pertemuan. Adam dan Hawa, Hitam dan putih, Gula dan Teh, Ulat dan Daun, Air Laut dan Pasir, Sepatu dan Telapak Kaki, Tanah dan Pondasi, dan terakhir pada detik ini, pertemuan Vega dan Altair. Dua nama berbeda dengan satu makna sama. Bintang. Vega bersinar paling terang pada Rasi Lyra, dan Altair berpendar mempesona pada rasi Aquila. Dua dari tiga bintang yang dalam mitologi yunani digariskan bersahabat, bersama satu lagi si angsa putih, Deneb dari rasi Cygnus. 

Ve dan Al, dua jiwa  yang menggeser mitos, karena mereka akhirnya pernah saling jatuh cinta, dan pernah juga saling memberi luka . Pernah saling mendamba dalam gila, tak luput juga bergerilya untuk saling mencerca. Ya, di bumi mereka memang hanya manusia biasa. Sebagaimana biasanya teh tanpa gula. Tawar tapi selalu jujur apa adanya. 

Setelah lalu ratusan purnama, satu kali gerhana, belasan gempa, dan juga pergantian walikota, dua jiwa yang akhirnya sepakat berjalan sendiri-sendiri setelah pernah berlari estafet merangkai mimpi ini, akhirnya bertatap muka. Bersua layaknya kawan lama yang hendak berbagi cerita. Motif sederhana dalam dua cangkir putih dengan penghuni berbeda. Teh dan Kopi. Dua cangkir minuman yang sama-sama manis karena mereka memang sama-sama penyuka gula. Satu kemiripan dari sekian ratus unsur  berbeda yang pernah mereka ramu dalam satu larutan pekat bernama Cinta. Larutan pekat yang enggan stagnan karena selanjutnya berubah wujud pada satu titik jenuh yang sama, menjelma menjadi luka dan lupa. Luka karena mereka sama-sama memberi izin untuk disakiti, lupa karena dengan hanya dengan begitu mereka berdamai dengan nyeri. Rasa yang impas tapi sempat sejenak meninggalkan bekas. 

 Sadar betapa sulitnya Tuhan mengatur segala pertemuan, mereka mulai saling menyapa. Berbasa-basi hampir basi  seperti “Kamu kapan balik dari Melbourne, Ve?”, atau “Ga nyangka akhirnya kamu memilih jadi PNS juga, Al?” Dalam setiap jeda, entah berapa sendok gula ditambahkan Ve, dan sudah tak terhitung berapa kali Al mengaduk kopi susu panasnya. Ada udara hampa diantara mereka. Ada cerita yang belum usai, ada terimakasih yang belum tulus diucapkan, dan ada maaf yang tersimpan  rapi menunggu untuk dimuntahkan. Mereka sama-sama berhutang kata, lepas dari keinginan untuk memutar ulang atau hanya sekedar saling mengenang. 

Vega di mata Al sudah jauh berbeda, mesmerizing dan sophisticated, mata cerdasnya masih berkilau seperti dulu, mata yang menghujam sekaligus menenangkan. Altair di mata Ve juga begitu. Jauh lebih kokoh dan berwibawa dibanding dulu, raut wajahnya tegas dengan mata yang masih semisterius dulu, mata yang berbicara dalam bahasa berbeda dengan kilau ekspresif mata Vega. 

Vega berpakaian rapih dengan Jaket Roberto Verino hitam asimetris, Dress Putih Noir & Blanc yang manis dengan sedikit jahitan rimpel miring di bagian paha, hosiery Vogue, dan lengkap dengan Ankle Strap Zara yang  membalut telapak dan punggung kakinya. Satu kata, Stunning. Ve selalu punya banyak cara untuk  membuat dirinya berbeda. Kalau perempuan disekitarnya berlomba beradu warna pelangi, Ia akan memilih menjadi hitam, dan saat semua wanita terbalut samar dalam gelap, maka ia akan memilih menjadi putih.  Untuk satu hal itu, Al yang walaupun tak pernah sepakat, telah maklum sejak lama. 

Bertolakbelakang dari Ve, Altair hadir sederhana dengan polo shirt abu-abu dan jeans biru Levis. Al tak pernah tergoda menonjolkan diri, sebisanya Ia hadir sesamar mungkin, tenggelam diantara hiruk pikuk bukan masalah, Ia hanya tidak paham mengapa harus  berbeda. Baginya berpakaian itu fungsi, bukan seni. Al tak menolak menjadi hitam, tak pula enggan membalut tubuhnya dengan putih, tapi Ia akan dengan senang hati mengenakan abu-abu. Satu warna favorit yang Ve tahu benar karena Ia pun pernah mengagumi warna yang sama, namun pensiun dini semenjak Ia menyerah bertahan dengan Al. Alih-alih menjatuhkan pilihan pada abu-abu, Ve mengakalinya dengan silver grey. Hampir serupa, tapi tentu tak sama. Setidaknya begitu di mata Ve. 

20 menit berlalu,  teh di ujung jari Ve terlalu manis sudah, tak ubahnya dengan kopi susu Al, yang pasrah dingin sebelum habis. Semua topik mengalir tanpa polemik, tentang pekerjaan, sekolah, Bandung, travelling, hingga politik. Diskusi bergulir semiformal, dari topik disertasi Ve hingga proyek Jembatan Selat Sunda dimana Al terlibat didalamnya.  Hanya satu topik yang tak pernah mereka mulai, baik ketika pertama kali berjabat tangan, hingga menit ke 21 ini,  “Cinta”. Tak ada yang ikhlas mempelopori pertanyaan “kamu sudah menikah?”. Informasi yang mudah diakses sebetulnya, andaikata keduanya tidak buru-buru hengkang dari dunia jejaring setelah sama-sama mapan pada karir masing-masing. Informasi yang tak mampu dijawab oleh dua pasang jemari yang polos tanpa cincin. 

 Dalam bisu mereka sama-sama menerka. Dalam hening dua jiwa tak bergeming. Dalam sepi, dua buah fakta terlipat rapi. Mereka duduk begitu dekat, tapi saling tercekat. Saling berhadapan namun enggan membalas tatapan. Seakan ada rambu yang membelenggu. Layaknya tamu, Vega dan Altair saling menunggu tanpa tahu pasti apa yang dinanti. Mereka hanya sama-sama ingin tahu, sudahkah masing-masing menemukan cinta kembali untuk selanjutnya berikrar mencintai sampai mati?

“Bulan depan aku menikah, Al.” Vega memecah sunyi…
“Bulan depan aku menikah, Ve.” Disaat yang sama Altair genap mengenyahkan sepi…

Untuk pertama kalinya, mereka sama-sama berbinar. Ketika begitu banyak hal yang berubah, mata Ve dan Al berbicara jujur tanpa tabir. Nyatanya kebahagiaan itu terpancar, berpendar setelah puluhan menit terkunci dalam sangkar. Selanjutnya mereka bertukar undangan. Dua buah undangan hitam dan putih beradu di antara cangkir. Saling menyapa, dan berkenalan. Tak perlu pembahasan lebih lanjut tentang nama siapa yang bertengger menemani di halaman depan, karena mereka yakin pemilik nama itu sama-sama beruntung. Seberuntung mereka yang masih sempat bertemu dan membayar hutang kata. Dua kata yang selanjutnya berbaur untuk berbagi bahagia. Dua kata yang tersimpan rapih hingga hari ini, ketika dua bintang itu melapangkan hati untuk mengucap “ Maaf”  dan “Terimakasih”.

1 komentar:

  1. hehe..nice story..
    btw,,altair skrg dah jd PNS y?
    piss ah..

    BalasHapus