Rabu, 25 Mei 2011

Les Quinze Nitz, Dagostraat, dan Secangkir Teh Apel Hangat

Sore yang  cerah hari ini membuat saya ikhlas menapaki ribuan meter dari estatua de colon hingga placa de catalunya yang nyatanya memang tidak sampai 2 kilometer. Untuk orang tropis seperti saya, suhu 63 F  ini memang agak dingin, karena itu artinya selisih 6 celcius lebih rendah dari suhu normal rata-rata di Bandung.  Beruntung beberapa hari lalu Lefties yang hanya berjarak selemparan batu dari placa de catalunya , menjual  separuh harga  untuk sepotong Trench Coat  Zara coklat muda. Lucky me for having this gorgeous coat for only 24 €. That’s one of my best deal here, anyway. Dengan menggulung rambut dengan bandana dan sedikit kamuflase topi ala baker atau newsboy cap (semoga saya hanya diduga sedang bad hair day) serta shawl abu-abu muda (penggunaan fullveil atau jilbab dilarang di ruang public Barcelona, entah sejak kapan) saya pun menerobos  riuh rendahnya Las Ramblas, Barcelona. 

Sayup sayup lagu Mana - Lluvia Al Corazon terdengar dari sebuah outlet souvenir, walau tentu kalah telak dengan hiruk pikuk turis yang asyik masyuk menonton street performance di sekitar patung Frederich Soi szobra. Pesona Las Ramblas yang sangat festive membuat saya banyak berhenti lama. Barcelona memang gudangnya pertunjukan jalanan yang spektakuler. Ada yang melumuri dirinya dengan cat putih dan mematung bak Charlie chaplin nongkrong di closet, ada pertunjukkan seni bela diri oleh satu kelompok orang yang saya duga dari asia, dan ada juga penampilan ciamik dari duo Spanish guitarist yang sukses menahan napas saya untuk beberapa detik (dan untuk ini saya melebihkan sedikit euro dengan pertimbangan bahwa mereka berdua berhasil menggeser Vamosia di Helsinki yang sebelumnya menjadi top 5 dalam daftar saya). Hat off untuk perjuangan para street performers mengumpulkan euro demi euro. Walau memukau, tidak jarang aksi dari beberapa street performes membuat saya gigit jari  karena mereka yang mematung, tetap diam tak bergeming ketika saya melemparkan satu koin euro saya. Ah, gaji buta. :D. 

Ketika lampu-lampu cantik mulai menyala, tepat di muka Burger King,masih di radius monument to Pittara,   saya dilema. Take it for granted untuk menu familiar dengan harga sepadan, atau lempar koin antara Les Quinze Nitz dengan Taxidermista yang artinya saya harus berjalan lagi kurang lebih 400 meter ke Placa Reial. Setelah menghitung kancing coat yang memang tidak seberapa, saya pun resmi melempar koin tepat di depan fountain three graces, Placa Reial. Akhirnya, Les Quinze Nitz, dengan konsekuensi saya masuk daftar tunggu yang ke 11!Ternyata antrian tidak hanya terjadi di kantor pajak atau kantor imigrasi di Indonesia. >_<! Baiklah, berhubung waktu kunjung saya di Barcelona kali ini cukup panjang, antrian beberapa puluh menit mungkin tidak seberapa. Walau saya sadar betul, berharap terlalu banyak, hanya akan mengecewakan kalau apa yang kelak didapat tidak membayar segala kelelahan saya mengantri. Life is beautiful. Let’s accept it with no exception. Barcelona bukan Bandung yang bahkan ketika kamu memandang sebelah mata dengan tampilan dan atmosfer suasananya, hampir tidak ada makanan yang betul-betul mengecewakan. Di Barcelona, you should put your less of expectation about food, dan bersiaplah untuk sekali-sekali menelan makanan yang mungkin lebih buruk dari biasa-biasa saja. Ini berdasarkan kacalidah orang Indonesia tentu saja, yang sangat teramat Oh My God subjektif sekali pisan!

Dan here's the deal of my less expectation. 15 menit pertama saya begitu sabar mengantri, walau saya agak merasa bodoh kenapa saya harus mengantri padahal di dalam ada sekitar 5-7 meja kosong tanpa reservasi. 15 menit kedua beberapa turis di depan saya mulai gundah gelisah. Penderitaan ini pun berakhir di 15 menit ketiga. Pada menit tersebut akhirnya saya yakin antrian ini mungkin semacam trik. Trik untuk sebuah pencitraan diri. Karena hampir semua turis ini rela mengantri karena penasaran dengan antrian. Sebuah jebakan rantai ekspektasi yang sukses besar. Dan setelah ratusan atau bahkan ribuan kali berkedip, here I am, menikmati beberapa starter, main course, dan dessert dengan ambience Placa Reial yang just too good to be true. Lampu rancangan Gaudi bersinar bersahaja dimana-mana. Speechless for the atmosphere

Setelah menikmati Tuna steak dengan soy sauce dan Catalunya Crème (bayangkan Crème Bruelee) yang ternyata sama sekali tidak buruk, saya memesan kopi dan Bailey ice cream untuk melengkapi a quite nice environment of Placa Reial. Tepat di sendok es krim terakhir, saya mendengar sayup suara lonceng yang makin lama makin nyaring. Mencari sumber suara, mata saya berputar mengitari deretan bangunan bergaya Renaissance dari sudut Taxidermista hingga pojok Cerveceria Alex. Belum sampai mata saya ke arah Pipa club yang letaknya tidak jauh dari Les Quinze Nitz, semua bangunan tiba-tiba  berdistorsi untuk selanjutnya semakin mengerucut ke atas, ke satu titik hilang yang akhirnya menelan Placa Reial dan seisinya dalam satu kedipan mata. Sensasi gelap dan terang berganti seiring tangan saya yang menjelajah mencari mangsa. Refleks ibu jari saya menekan “dismiss”. Ternyata lonceng itu adalah alarm jam 4 sore saya, yang artinya 90 menit sudah saya mengalah pada mata untuk mengizinkan kelopaknya menutup. Selama itu pula Las Ramblas jadi setting sempurna mimpi singkat saya. Mimpi yang selanjutnya membuat sore di Bandung jadi lebih dramatis di mata saya. Sedramatis seduhan teh  apel hangat yang tidak akan pernah saya tukar dengan House Red Winenya Les Quinze Nitz walau katanya itu worth the price. Kata Bang Rhoma, itu haram, sodara-sodara.:D.

Secangkir teh aroma buah ini mengingatkan saya akan satu hal, kenapa Bandung tidak punya Las Ramblas? Sudah ada sedikit usaha di Braga,memang, tapi pejalan kaki tetap tidak jadi raja. Tertekan oleh deretan mobil dan motor yang parkir parallel, lalu lintas kendaraan yang hampir selalu padat merayap di atas jalan berpaving yang katanya pedestrian friendly. Mungkin ‘Bapak’ yang duduk disana boleh jadi berbangga hati dengan menambahkan prasasti sebagai tanda telah merevitalisasi Jalan Braga, tapi honestly speaking, bagi saya PR Bandung untuk revitalisasi heritage site macam Braga masih segunung. 

Las Ramblas dan Barcelona mungkin bisa jadi contoh dedikasi sebuah Kota yang secara sadar merenovasi kotanya melalui arsitektur, seni, dan desain. Renovasi arsitektural jadi bermakna sangat luas, karena urban renewal berbicara dalam bahasa yang lebih dari konteks perancangan bangunan. Dalam ranah yang lebih mikro contohnya, dimana plaza, jalan, dan taman, bukan dijadikan akibat dari geometri abstrak yang pasrah hanya jadi konsekuensi.  Mereka adalah elemen yang memang dirancang sesuai dengan topografi, skala tapak, dan elemen arsitektural di sekitarnya. Kira-kira begitulah saya menerjemahkan sedikit penyataan Sola Morales tentang square, avenue, and public garden.
 
Dalam hal ini arsitek punya peran yang sangat fundamental, karena mereka turut mentransformasikan ruang-ruang ‘domestik’ menjadi ruang-ruang publik. Tradisi arsitek yang biasanya hanya memberi perhatian ekstra  terhadap aspek detail pada ruang-ruang privat, kini diterapkan pada perancangan ruang publik. Such a great move ketika disaat yang sama  Bandung luput memperbaiki jalur pedestrian, enggan menambah ruang publik yang layak, serta absen mengatur regulasi untuk konservasi bangunan tua di sepanjang Jalan Dago dengan alih-alih melabelnya menjadi floating zone. “Zona Mengambang”, sebuah istilah yang tidak saya temukan pada pedoman peta zonasi manapun. Karena di mata saya istilah tersebut adalah salah satu istilah paling galau dalam dunia urban design karena itu berarti berbagai fleksibilitas dalam perizinan dimungkinkan namun tetap dibawah control pemerintah.  Istilah yang mungkin hanya boleh dipakai dalam keadaan darurat dimana para pemangku kebijakan yang memang sedang galau, berpikir keras untuk menetapkan peraturan zonasi yang lebih baik untuk sebuah kawasan dengan berbagai benturan kepentingan. 

Dan nyatanya, fleksibilitas itu memang ada, bahkan dalam dosis yang berlebih hingga segalanya menjadi boleh untuk ‘ada’. Dago yang awalnya dikenal sebagai Dagostraat semakin mengapung, terlena, dan mungkin semakin jauh menapak bumi. Romansa sebuah kota yang berada di urutan ke 9 sebagai Kota Art Deco di Dunia terbuyarkan sudah dengan billboard dan papan iklan dimana-mana. Cladding dianggap lebih bersuara untuk menarik massa, sehingga dianggap layak untuk membungkus apa yang lebih pantas disebut karya. Apakah ini perjalanan sebuah kota menuju amnesia? Entahlah, saya yang seringkali asal berbicara ini terlalu naïf untuk menganalisis fakta atau bahkan sekedar memprediksi dan menduga-duga. :). 

Sebelum menghabiskan teguk terakhir dari cangkir teh apel saya yang memang belum sempat dingin, saya melayangkan pikiran sejenak. Menembus perspektif, menuju distorsi, dan titik hilang yang persis klimaks Placa Reial di mimpi saya. Menapaki  Dagostraat, sebuah avenue yang kali ini didedikasikan sepenuhnya untuk public. Ada mahasiswa yang rela berjalan kaki menuju kos-kosannya di daerah sekeloa dan gasibu. Ada komunitas pecinta skateboard yang unjuk gigi di salah satu tepi. Ada ruang untuk pertunjukkan angklung atau seniman jalanan berbakat. Ada street vendor dengan menu utama jajanan khas tanah sunda. Ada keluarga kecil bahagia yang menemani putri kecilnya belajar berjalan. Ada turis asal Surabaya dan backpacker asal Rusia. Ada senyum dan tawa pertanda ruang publik memang membuat mereka bahagia. Dan tentu saja ada saya, yang kali ini tanpa kamuflase newsboy cap, atau shawl abu-abu muda, karena kota ini terbuka untuk siapa saja, dari berbagai ras, agama, dan budaya. Flexible in a positive way seperti fleksibelnya teh yang tetap menjadi teh walau dipadu dengan buah. 

Dan akhirnya, manisnya teh apel yang sempat mampir di lidah saya turut menerjemahkan manisnya harapan saya akan Bandung di waktu kelak,,

Tanpa sedikitpun  skeptis atau pesimis, saya yakin, Bandung Bisa! :).





                                 

4 komentar:

  1. agreed!!
    keep writing...

    BalasHapus
  2. Nice tik.. :D membuat ruh saya melayang dari tubuh, ikut menikmati suasana Las Ramblas..

    BalasHapus
  3. kata-kata lo in,,,ruh melayang dari tubuh,,,,merinding gw bacanya,,,hahaha,,,,anyway terimakasi sudah mampir kodel dan ein,,,*kecup cup cup

    BalasHapus
  4. setuju,,andai jalan2 di bdg -g cuma di braga-(per4an cimindi, jalan cigondewah, ciroyom)di bdg ky di Las Rambas..
    tp kira2 kpn ya?

    BalasHapus